Health

Tenaga Kesehatan Indonesia Dilirik Korea Selatan, Peluang Karier Internasional Kian Besar

Jakarta – Indonesia dan Korea Selatan memperkuat kolaborasi pendidikan kesehatan melalui kemitraan yang melibatkan 38 Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan dan enam universitas Korea Selatan.

Kolaborasi itu menjadi fokus utama dalam Indonesia–Korea University Collaboration Seminar and Consultation Meeting yang berlangsung di Jakarta, 31 Mei 2026. Pertemuan ini tidak hanya membahas pertukaran akademik, tetapi juga membuka peluang pengembangan karier global bagi tenaga kesehatan Indonesia di masa depan.

Di tengah meningkatnya kebutuhan tenaga kesehatan dunia, terutama pada sektor caregiving dan layanan perawatan jangka panjang (long-term care), kerja sama lintas negara dinilai menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya saing lulusan Indonesia.

Sekretaris Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan Kementerian Kesehatan, Albertus Yudha Poerwadi, mengatakan bahwa kolaborasi internasional kini menjadi kebutuhan penting dalam menyiapkan tenaga kesehatan yang mampu bersaing secara global.

Menurutnya, kemitraan dengan universitas-universitas Korea Selatan dapat memperluas akses mahasiswa dan dosen terhadap praktik terbaik dunia sekaligus membuka jalur karier internasional yang lebih luas.

“Kerja sama ini diharapkan memperkuat kualitas pendidikan tenaga kesehatan sekaligus memberikan pengalaman internasional yang relevan dengan tantangan layanan kesehatan masa depan,” ujarnya.

Bukan Sekadar Pertukaran Mahasiswa

Berbeda dengan program kerja sama pendidikan pada umumnya, pembahasan dalam seminar ini mencakup aspek yang lebih luas dan berorientasi jangka panjang.

Beberapa peluang kolaborasi yang dijajaki meliputi pengembangan pendidikan keperawatan, program caregiving, pertukaran mahasiswa dan dosen, penyusunan kurikulum bersama, kolaborasi penelitian, hingga program pelatihan bahasa sebagai bekal bekerja di luar negeri.

Langkah tersebut dinilai penting karena tren global menunjukkan meningkatnya permintaan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi internasional dan kemampuan lintas budaya.

Saat ini, 38 Poltekkes di bawah Kementerian Kesehatan telah menjadi salah satu tulang punggung pendidikan tenaga kesehatan nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, institusi-institusi tersebut juga mulai memperluas jejaring internasional melalui kerja sama dengan berbagai negara seperti Jepang, Jerman, dan sejumlah negara Timur Tengah.

Program yang dijalankan mencakup mobilitas mahasiswa, peningkatan kapasitas dosen, sertifikasi internasional, hingga peluang penempatan kerja di luar negeri.

Korea Selatan Jadi Mitra Strategis

Ketua Gangwon 7 College Consortium (G7CC), Hyun In Suk, menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan sumber daya manusia kesehatan.

Ia menyebut kemitraan antara institusi pendidikan kedua negara dapat menjadi fondasi untuk membangun program akademik dan riset yang berkelanjutan.

Menurutnya, kerja sama tersebut tidak hanya menguntungkan mahasiswa dan dosen, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kualitas layanan kesehatan di kedua negara.

Optimisme serupa disampaikan Direktur Penyediaan Tenaga Kesehatan Kementerian Kesehatan, Anna Kurniati, yang menegaskan bahwa Korea Selatan telah menjadi salah satu mitra penting dalam pengembangan pendidikan tenaga kesehatan Indonesia.

Salah satu bentuk kolaborasi yang sudah berjalan adalah penandatanganan Nota Kesepahaman dengan KOICA untuk mendukung akreditasi internasional Program Studi Kebidanan di sejumlah Poltekkes.

“Kerja sama ini membuka peluang yang lebih luas bagi lulusan Poltekkes Indonesia untuk mengembangkan karier secara internasional, termasuk di Korea Selatan,” kata Anna.

Menjawab Tantangan Tenaga Kesehatan Global

Di balik kerja sama ini terdapat isu yang lebih besar, yakni kebutuhan dunia terhadap tenaga kesehatan berkualitas yang terus meningkat akibat penuaan populasi dan perubahan pola layanan kesehatan global.

Korea Selatan, seperti banyak negara maju lainnya, menghadapi kebutuhan besar pada sektor perawatan lansia dan layanan kesehatan jangka panjang. Kondisi tersebut menciptakan peluang baru bagi tenaga kesehatan Indonesia yang memiliki kompetensi dan sertifikasi sesuai standar internasional.

Melalui kolaborasi antara Kementerian Kesehatan, 38 Poltekkes, dan Gangwon 7 College Consortium, Indonesia tidak hanya memperluas akses pendidikan internasional, tetapi juga memperkuat posisi tenaga kesehatan nasional di pasar kerja global.

Jika ditindaklanjuti secara konkret, kerja sama ini berpotensi menjadi salah satu jalur strategis yang menghubungkan lulusan kesehatan Indonesia dengan kebutuhan tenaga profesional di berbagai negara dalam beberapa tahun ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *