Skip to content
trendsetter.id

  • News
  • Gaya Hidup
  • Travel
  • EKONOMI BISNIS
  • MUSIK
  • Tekno
  • Health
  • Properti
  • Hotel
  • Otomotif
  • Profil

Featured posts slider

Jakarta — Ada kalanya hubungan tidak berakhir dengan pertengkaran atau kata putus. Seseorang hanya tiba-tiba menghilang, meninggalkan pertanyaan, atau membuat kita terus menunggu tanpa kejelasan. Untuk situasi seperti itu, penyanyi muda ERN punya satu jawaban sederhana: “YOWES”. “YOWES” menjadi single terbaru ERN yang mengangkat momen ketika seseorang akhirnya memilih berhenti menunggu dan berdamai dengan keadaan. Kata tersebut diambil dari bahasa Jawa yang berarti “ya sudah”. Namun, bagi ERN, “YOWES” bukan sekadar ungkapan untuk mengakhiri sesuatu. Lagu ini menggambarkan sikap menerima keadaan sekaligus keberanian untuk melanjutkan hidup setelah menghadapi hubungan yang membingungkan. “Harapanku, ketika teman-teman mendengarkan YOWES, terutama saat digosting atau ditinggalkan, mereka bisa merasa, ‘Ah, ya udahlah, masih banyak ikan di laut’,” ujar ERN. Alih-alih membawa suasana patah hati yang terlalu muram, ERN mengemas “YOWES” dengan nuansa ringan dan ritme yang mengajak bergoyang. Lagu ini bisa menjadi teman ketika sedang galau, dalam perjalanan, atau sekadar membutuhkan pengingat untuk kembali memilih diri sendiri. “Kalau kalian sedang bingung menghadapi seseorang, dengarkan saja YOWES. Kalian deserve better,” lanjutnya. “YOWES” juga menjadi pengalaman baru bagi ERN karena untuk pertama kalinya ia bekerja bersama tim penulis lagu yang terdiri dari Raa, Rai, Anka, dan Wizi. Keterlibatan dalam proses penulisan menjadi bagian penting bagi ERN untuk memasukkan identitas dan idealisme bermusiknya ke dalam lagu. Secara musikal, ERN banyak mengeksplorasi warna R&B dan pop, dengan pengaruh dari sejumlah musisi seperti Ariana Grande, SZA, Laufey, Tori Kelly, Kelly Clarkson, hingga Jacob Collier. Lewat “YOWES”, ia juga mencoba membawa sentuhan lokal melalui penggunaan bahasa Jawa yang terasa sederhana, tetapi dekat dengan keseharian. Bagi ERN, pilihan kata tersebut menjadi cara untuk menyampaikan pesan move on tanpa harus membuatnya terdengar terlalu berat. Nama ERN sendiri berasal dari nama aslinya dan memiliki makna personal karena merupakan singkatan dari nama kedua orang tuanya. Sebelumnya dikenal dengan nama Erna, ia kemudian menyederhanakan nama tersebut menjadi ERN sebagai identitas bermusik. Buat yang masih menunggu chat yang tak kunjung datang, terus bertanya-tanya soal status hubungan, atau baru saja ditinggal tanpa penjelasan, mungkin memang sudah waktunya bilang: YOWES.
Musik

Digantung atau Ditinggal? ERN Ajak Move On Lewat Single “YOWES”

29/09/2026 Graciella Atalia
Jakarta — Rumah idealnya menjadi tempat pertama untuk merasa aman. Namun, bagi sebagian orang, rumah justru menyimpan cerita yang tidak mudah dibicarakan. Realitas inilah yang diangkat Pee Wee Gaskins (PWG) bersama Boniex, vokalis For Revenge, lewat single terbaru mereka, “(R)u(N)tuh”. Lagu tersebut bercerita tentang keluarga yang dari luar terlihat tetap utuh, tetapi menyimpan persoalan dan ketegangan di dalamnya. Di tengah hubungan orang tua yang tidak lagi bahagia, seorang anak tumbuh dalam situasi yang membuat rumah perlahan kehilangan maknanya sebagai tempat untuk pulang. Cerita dalam “(R)u(N)tuh” berawal dari kampanye yang digagas Dochi, personel PWG, untuk mengumpulkan pengalaman orang-orang yang pernah menghadapi situasi broken home. Sejumlah respons dan wawancara singkat melalui Threads kemudian menjadi bahan untuk membangun emosi dan cerita dalam lirik lagu. Alih-alih melihat persoalan keluarga hanya dari sudut pandang orang tua, lagu ini menempatkan pengalaman anak sebagai salah satu pusat ceritanya. Liriknya menggambarkan dua orang tua yang memilih bertahan demi anak dengan keyakinan bahwa mempertahankan keluarga adalah pilihan terbaik. Namun, keputusan tersebut tidak selalu membuat suasana rumah menjadi lebih bahagia. Anak justru dapat tumbuh di tengah hubungan yang penuh jarak dan ketegangan. Pada titik tersebut, rumah yang seharusnya menjadi tempat mencari kenyamanan bisa berubah menjadi ruang yang membuat seseorang mencari penerimaan di tempat lain. Kehadiran Boniex dalam lagu ini juga lahir dari proses kreatif yang cukup natural. Selain membantu menemukan notasi untuk lirik yang telah ditulis Dochi, karakter vokal Boniex dianggap sesuai dengan emosi yang ingin dibangun dalam “(R)u(N)tuh”. Bagi PWG, tema emosional bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Mereka sebelumnya pernah membawa sisi reflektif melalui lagu seperti “Selama Engkau Hidup” dan “Be Brave And Carry On”. Kali ini, energi pop-punk PWG digunakan untuk membawa cerita yang lebih dekat dengan persoalan keluarga. “Pop-punk enggak selamanya harus ceria. Lewat lagu ini, kami ingin membawa cerita yang berat dengan cara yang tetap jujur dan dekat dengan pendengar,” ungkap PWG. Meski mengangkat tema perceraian dan keluarga yang retak, “(R)u(N)tuh” tidak dibuat untuk menghakimi perceraian ataupun menentukan seperti apa bentuk keluarga yang ideal. Dochi justru ingin lagu ini menjadi ruang bagi mereka yang pernah atau sedang berada dalam situasi serupa. “Gue enggak punya ekspektasi lagu ini harus mengubah pandangan orang tentang perceraian atau keluarga. Gue cuma ingin cerita yang kami bawa bisa didengar dan mungkin relate dengan orang lain yang pernah atau sedang ada di posisi yang sama,” ujar Dochi. Pesan lain yang dibawa lagu ini ditujukan kepada anak-anak yang berada di tengah konflik keluarga. Mereka bukan penyebab dari persoalan orang tua, tidak harus memilih pihak, dan tetap memiliki hak untuk mencintai kedua orang tuanya. Lebih dari sekadar cerita tentang perpisahan, “(R)u(N)tuh” berbicara tentang kebutuhan untuk merasa aman dan bahagia. “Kadang kita terlalu sibuk mempertahankan bentuk sebuah keluarga sampai lupa bahwa yang sebenarnya dibutuhkan adalah rasa aman dan bahagia di dalamnya. Bertahan enggak selalu berarti semuanya akan menjadi lebih baik. Ada kalanya menerima dan melepaskan justru menjadi pilihan terbaik untuk semua orang,” lanjut Dochi. Lewat “(R)u(N)tuh”, PWG dan Boniex tidak menawarkan jawaban tunggal tentang bagaimana sebuah keluarga harus menghadapi masalah. Lagu ini lebih menjadi ruang untuk memahami luka yang sering kali tidak terlihat dari luar. Pada akhirnya, “(R)u(N)tuh” membawa pesan tentang menerima, berdamai, dan mencoba memulai kembali. Bagi pendengarnya, terutama mereka yang pernah mengalami situasi serupa, lagu ini diharapkan bisa menjadi pengingat bahwa mereka tidak sendirian.
Musik

Saat Rumah Tak Lagi Jadi Tempat Aman, Pee Wee Gaskins Rilis “(R)u(N)tuh”

29/09/2026 Dimas Heriyanto
Jakarta — Kecerdasan buatan (AI) semakin masuk ke keseharian para pengembang perangkat lunak di Indonesia. Namun, meningkatnya penggunaan AI ternyata berjalan beriringan dengan persoalan baru, terutama terkait biaya dan kebutuhan pengawasan manusia. Temuan tersebut muncul dalam AI Developer Report 2026 yang dirilis platform perjalanan digital Agoda. Studi ini melibatkan komunitas pengembang di Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Singapura, Vietnam, dan India untuk melihat bagaimana AI mengubah pola kerja developer serta penerapan teknologi tersebut di lingkungan organisasi. Di Indonesia, sebanyak 82,7% developer melaporkan adanya peningkatan kepercayaan diri atau penggunaan AI. Meski demikian, manfaat berupa penghematan waktu belum dirasakan secara merata. Hanya 46,9% developer Indonesia yang mengaku menghemat tujuh jam atau lebih setiap minggu melalui AI. Angka tersebut menjadi yang terendah dibandingkan tujuh pasar yang disurvei. Secara keseluruhan, penggunaan AI menunjukkan peningkatan produktivitas yang cukup signifikan. Lebih dari separuh responden global dalam studi tersebut mengaku menghemat setidaknya tujuh jam per minggu, naik dari 18% pada 2025 menjadi 55% pada 2026. AI Mulai Masuk ke Berbagai Tahap Pengembangan Penggunaan AI kini tidak lagi terbatas pada membantu pekerjaan individual. Teknologi tersebut mulai dimanfaatkan dalam berbagai aktivitas pengembangan perangkat lunak, mulai dari code review, debugging, arsitektur, pembelajaran hingga dokumentasi. Kualitas kode yang dihasilkan AI juga dinilai semakin baik. Sebanyak 62% responden mengatakan kode yang dihasilkan AI sering atau hampir selalu dapat digunakan tanpa perubahan besar. Meski demikian, developer belum sepenuhnya menyerahkan pekerjaan kepada AI. Sebanyak 86% responden masih selalu atau hampir selalu meninjau maupun memvalidasi hasil yang diberikan AI. Perubahan berikutnya terlihat dari semakin banyaknya penggunaan AI agent, yakni sistem AI yang dapat menjalankan rangkaian tugas dengan tingkat otonomi lebih tinggi. Lebih dari separuh responden, atau sekitar 53%, mengatakan AI agent telah digunakan dalam alur kerja produksi tertentu atau bahkan secara luas di organisasi mereka. Namun, kesiapan menuju sistem yang sepenuhnya otonom masih terbatas. Hanya 38% responden yang menilai codebase mereka sebagian besar atau sepenuhnya siap untuk penggunaan AI agent secara penuh. Biaya Mulai Jadi Perhatian Persoalan biaya muncul sebagai salah satu tantangan utama. Sekitar 27,7% developer Indonesia menyebut biaya sebagai hambatan utama penggunaan AI agent. Secara keseluruhan, biaya juga menjadi hambatan utama dalam adopsi AI yang lebih luas, disusul kompleksitas integrasi dan kurangnya tata kelola. Biaya yang dimaksud bukan hanya pembayaran untuk penggunaan model AI. Pengeluaran juga mencakup kebutuhan untuk merancang, mengintegrasikan, mengawasi, serta memvalidasi sistem AI sebelum digunakan dalam lingkungan produksi. Empat dari lima responden bahkan mengatakan mereka saat ini bekerja dengan sejumlah pembatasan penggunaan AI, seperti kuota token, batas pemakaian, maupun batas anggaran. Manusia Masih Memegang Kendali Meski AI agent diperkirakan akan mengambil porsi pekerjaan yang lebih besar, pengembang masih menempatkan manusia sebagai bagian penting dalam proses pengambilan keputusan. Sebanyak 70% responden memperkirakan AI agent akan menangani sebagian besar pekerjaan pengembangan dalam tiga tahun ke depan. Namun, ketika menyangkut penerapan ke tahap produksi, 79% masih mewajibkan persetujuan manusia. Pola tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi risiko suatu pekerjaan, semakin besar pula kebutuhan terhadap pengawasan manusia. Untuk pekerjaan yang relatif mudah dibatalkan, seperti dokumentasi, developer cenderung lebih terbuka memberikan otonomi kepada AI. Perubahan ini juga mulai memengaruhi keterampilan yang dianggap penting bagi developer. Arsitektur dan desain sistem, literasi AI, serta kemampuan mengorkestrasi agent diperkirakan menjadi bagian penting dari keterampilan pengembang di masa mendatang. Namun, tingkat kepercayaan diri terhadap perubahan tersebut berbeda antarjenjang karier. Sebanyak 49% developer pemula mengaku kurang yakin terhadap prospek karier mereka di masa depan, sementara angka tersebut berada di 16,7% pada responden yang menjabat sebagai CTO atau VP Engineering. CTO Agoda, Idan Zalzberg, mengatakan perkembangan AI tidak hanya meningkatkan kecepatan dalam mengerjakan tugas, tetapi juga membawa kebutuhan baru untuk memastikan teknologi tersebut dapat digunakan secara bertanggung jawab. Menurutnya, tantangan berikutnya bukan hanya bagaimana organisasi memanfaatkan kemampuan AI, tetapi juga bagaimana mengelola biaya, membangun perlindungan yang tepat, dan tetap menempatkan penilaian manusia pada keputusan penting. Studi AI Developer Report 2026 ini diprakarsai Agoda dan dilaksanakan bersama Macramé Consulting. Melalui studi tersebut, Agoda melihat perkembangan penggunaan AI di kalangan developer sekaligus perubahan kebutuhan keterampilan teknologi di Asia Tenggara dan India.
Tekno

Developer Indonesia Makin Percaya AI, Biaya Jadi Tantangan Baru

29/09/2026 Dimas Heriyanto
Dining in the Sky di Cibubur, Kitchen Takeover with RATIONAL Hadirkan Lima Chef
Hotel

Dining in the Sky di Cibubur, Kitchen Takeover with RATIONAL Hadirkan Lima Chef

29/09/2026 Dimas Heriyanto

Highlighted posts

Jakarta — Ada kalanya hubungan tidak berakhir dengan pertengkaran atau kata putus. Seseorang hanya tiba-tiba menghilang, meninggalkan pertanyaan, atau membuat kita terus menunggu tanpa kejelasan. Untuk situasi seperti itu, penyanyi muda ERN punya satu jawaban sederhana: “YOWES”. “YOWES” menjadi single terbaru ERN yang mengangkat momen ketika seseorang akhirnya memilih berhenti menunggu dan berdamai dengan keadaan. Kata tersebut diambil dari bahasa Jawa yang berarti “ya sudah”. Namun, bagi ERN, “YOWES” bukan sekadar ungkapan untuk mengakhiri sesuatu. Lagu ini menggambarkan sikap menerima keadaan sekaligus keberanian untuk melanjutkan hidup setelah menghadapi hubungan yang membingungkan. “Harapanku, ketika teman-teman mendengarkan YOWES, terutama saat digosting atau ditinggalkan, mereka bisa merasa, ‘Ah, ya udahlah, masih banyak ikan di laut’,” ujar ERN. Alih-alih membawa suasana patah hati yang terlalu muram, ERN mengemas “YOWES” dengan nuansa ringan dan ritme yang mengajak bergoyang. Lagu ini bisa menjadi teman ketika sedang galau, dalam perjalanan, atau sekadar membutuhkan pengingat untuk kembali memilih diri sendiri. “Kalau kalian sedang bingung menghadapi seseorang, dengarkan saja YOWES. Kalian deserve better,” lanjutnya. “YOWES” juga menjadi pengalaman baru bagi ERN karena untuk pertama kalinya ia bekerja bersama tim penulis lagu yang terdiri dari Raa, Rai, Anka, dan Wizi. Keterlibatan dalam proses penulisan menjadi bagian penting bagi ERN untuk memasukkan identitas dan idealisme bermusiknya ke dalam lagu. Secara musikal, ERN banyak mengeksplorasi warna R&B dan pop, dengan pengaruh dari sejumlah musisi seperti Ariana Grande, SZA, Laufey, Tori Kelly, Kelly Clarkson, hingga Jacob Collier. Lewat “YOWES”, ia juga mencoba membawa sentuhan lokal melalui penggunaan bahasa Jawa yang terasa sederhana, tetapi dekat dengan keseharian. Bagi ERN, pilihan kata tersebut menjadi cara untuk menyampaikan pesan move on tanpa harus membuatnya terdengar terlalu berat. Nama ERN sendiri berasal dari nama aslinya dan memiliki makna personal karena merupakan singkatan dari nama kedua orang tuanya. Sebelumnya dikenal dengan nama Erna, ia kemudian menyederhanakan nama tersebut menjadi ERN sebagai identitas bermusik. Buat yang masih menunggu chat yang tak kunjung datang, terus bertanya-tanya soal status hubungan, atau baru saja ditinggal tanpa penjelasan, mungkin memang sudah waktunya bilang: YOWES.
Musik

Digantung atau Ditinggal? ERN Ajak Move On Lewat Single “YOWES”

29/09/2026 Graciella Atalia
Jakarta — Rumah idealnya menjadi tempat pertama untuk merasa aman. Namun, bagi sebagian orang, rumah justru menyimpan cerita yang tidak mudah dibicarakan. Realitas inilah yang diangkat Pee Wee Gaskins (PWG) bersama Boniex, vokalis For Revenge, lewat single terbaru mereka, “(R)u(N)tuh”. Lagu tersebut bercerita tentang keluarga yang dari luar terlihat tetap utuh, tetapi menyimpan persoalan dan ketegangan di dalamnya. Di tengah hubungan orang tua yang tidak lagi bahagia, seorang anak tumbuh dalam situasi yang membuat rumah perlahan kehilangan maknanya sebagai tempat untuk pulang. Cerita dalam “(R)u(N)tuh” berawal dari kampanye yang digagas Dochi, personel PWG, untuk mengumpulkan pengalaman orang-orang yang pernah menghadapi situasi broken home. Sejumlah respons dan wawancara singkat melalui Threads kemudian menjadi bahan untuk membangun emosi dan cerita dalam lirik lagu. Alih-alih melihat persoalan keluarga hanya dari sudut pandang orang tua, lagu ini menempatkan pengalaman anak sebagai salah satu pusat ceritanya. Liriknya menggambarkan dua orang tua yang memilih bertahan demi anak dengan keyakinan bahwa mempertahankan keluarga adalah pilihan terbaik. Namun, keputusan tersebut tidak selalu membuat suasana rumah menjadi lebih bahagia. Anak justru dapat tumbuh di tengah hubungan yang penuh jarak dan ketegangan. Pada titik tersebut, rumah yang seharusnya menjadi tempat mencari kenyamanan bisa berubah menjadi ruang yang membuat seseorang mencari penerimaan di tempat lain. Kehadiran Boniex dalam lagu ini juga lahir dari proses kreatif yang cukup natural. Selain membantu menemukan notasi untuk lirik yang telah ditulis Dochi, karakter vokal Boniex dianggap sesuai dengan emosi yang ingin dibangun dalam “(R)u(N)tuh”. Bagi PWG, tema emosional bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Mereka sebelumnya pernah membawa sisi reflektif melalui lagu seperti “Selama Engkau Hidup” dan “Be Brave And Carry On”. Kali ini, energi pop-punk PWG digunakan untuk membawa cerita yang lebih dekat dengan persoalan keluarga. “Pop-punk enggak selamanya harus ceria. Lewat lagu ini, kami ingin membawa cerita yang berat dengan cara yang tetap jujur dan dekat dengan pendengar,” ungkap PWG. Meski mengangkat tema perceraian dan keluarga yang retak, “(R)u(N)tuh” tidak dibuat untuk menghakimi perceraian ataupun menentukan seperti apa bentuk keluarga yang ideal. Dochi justru ingin lagu ini menjadi ruang bagi mereka yang pernah atau sedang berada dalam situasi serupa. “Gue enggak punya ekspektasi lagu ini harus mengubah pandangan orang tentang perceraian atau keluarga. Gue cuma ingin cerita yang kami bawa bisa didengar dan mungkin relate dengan orang lain yang pernah atau sedang ada di posisi yang sama,” ujar Dochi. Pesan lain yang dibawa lagu ini ditujukan kepada anak-anak yang berada di tengah konflik keluarga. Mereka bukan penyebab dari persoalan orang tua, tidak harus memilih pihak, dan tetap memiliki hak untuk mencintai kedua orang tuanya. Lebih dari sekadar cerita tentang perpisahan, “(R)u(N)tuh” berbicara tentang kebutuhan untuk merasa aman dan bahagia. “Kadang kita terlalu sibuk mempertahankan bentuk sebuah keluarga sampai lupa bahwa yang sebenarnya dibutuhkan adalah rasa aman dan bahagia di dalamnya. Bertahan enggak selalu berarti semuanya akan menjadi lebih baik. Ada kalanya menerima dan melepaskan justru menjadi pilihan terbaik untuk semua orang,” lanjut Dochi. Lewat “(R)u(N)tuh”, PWG dan Boniex tidak menawarkan jawaban tunggal tentang bagaimana sebuah keluarga harus menghadapi masalah. Lagu ini lebih menjadi ruang untuk memahami luka yang sering kali tidak terlihat dari luar. Pada akhirnya, “(R)u(N)tuh” membawa pesan tentang menerima, berdamai, dan mencoba memulai kembali. Bagi pendengarnya, terutama mereka yang pernah mengalami situasi serupa, lagu ini diharapkan bisa menjadi pengingat bahwa mereka tidak sendirian.
Musik

Saat Rumah Tak Lagi Jadi Tempat Aman, Pee Wee Gaskins Rilis “(R)u(N)tuh”

29/09/2026 Dimas Heriyanto
Jakarta — Kecerdasan buatan (AI) semakin masuk ke keseharian para pengembang perangkat lunak di Indonesia. Namun, meningkatnya penggunaan AI ternyata berjalan beriringan dengan persoalan baru, terutama terkait biaya dan kebutuhan pengawasan manusia. Temuan tersebut muncul dalam AI Developer Report 2026 yang dirilis platform perjalanan digital Agoda. Studi ini melibatkan komunitas pengembang di Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Singapura, Vietnam, dan India untuk melihat bagaimana AI mengubah pola kerja developer serta penerapan teknologi tersebut di lingkungan organisasi. Di Indonesia, sebanyak 82,7% developer melaporkan adanya peningkatan kepercayaan diri atau penggunaan AI. Meski demikian, manfaat berupa penghematan waktu belum dirasakan secara merata. Hanya 46,9% developer Indonesia yang mengaku menghemat tujuh jam atau lebih setiap minggu melalui AI. Angka tersebut menjadi yang terendah dibandingkan tujuh pasar yang disurvei. Secara keseluruhan, penggunaan AI menunjukkan peningkatan produktivitas yang cukup signifikan. Lebih dari separuh responden global dalam studi tersebut mengaku menghemat setidaknya tujuh jam per minggu, naik dari 18% pada 2025 menjadi 55% pada 2026. AI Mulai Masuk ke Berbagai Tahap Pengembangan Penggunaan AI kini tidak lagi terbatas pada membantu pekerjaan individual. Teknologi tersebut mulai dimanfaatkan dalam berbagai aktivitas pengembangan perangkat lunak, mulai dari code review, debugging, arsitektur, pembelajaran hingga dokumentasi. Kualitas kode yang dihasilkan AI juga dinilai semakin baik. Sebanyak 62% responden mengatakan kode yang dihasilkan AI sering atau hampir selalu dapat digunakan tanpa perubahan besar. Meski demikian, developer belum sepenuhnya menyerahkan pekerjaan kepada AI. Sebanyak 86% responden masih selalu atau hampir selalu meninjau maupun memvalidasi hasil yang diberikan AI. Perubahan berikutnya terlihat dari semakin banyaknya penggunaan AI agent, yakni sistem AI yang dapat menjalankan rangkaian tugas dengan tingkat otonomi lebih tinggi. Lebih dari separuh responden, atau sekitar 53%, mengatakan AI agent telah digunakan dalam alur kerja produksi tertentu atau bahkan secara luas di organisasi mereka. Namun, kesiapan menuju sistem yang sepenuhnya otonom masih terbatas. Hanya 38% responden yang menilai codebase mereka sebagian besar atau sepenuhnya siap untuk penggunaan AI agent secara penuh. Biaya Mulai Jadi Perhatian Persoalan biaya muncul sebagai salah satu tantangan utama. Sekitar 27,7% developer Indonesia menyebut biaya sebagai hambatan utama penggunaan AI agent. Secara keseluruhan, biaya juga menjadi hambatan utama dalam adopsi AI yang lebih luas, disusul kompleksitas integrasi dan kurangnya tata kelola. Biaya yang dimaksud bukan hanya pembayaran untuk penggunaan model AI. Pengeluaran juga mencakup kebutuhan untuk merancang, mengintegrasikan, mengawasi, serta memvalidasi sistem AI sebelum digunakan dalam lingkungan produksi. Empat dari lima responden bahkan mengatakan mereka saat ini bekerja dengan sejumlah pembatasan penggunaan AI, seperti kuota token, batas pemakaian, maupun batas anggaran. Manusia Masih Memegang Kendali Meski AI agent diperkirakan akan mengambil porsi pekerjaan yang lebih besar, pengembang masih menempatkan manusia sebagai bagian penting dalam proses pengambilan keputusan. Sebanyak 70% responden memperkirakan AI agent akan menangani sebagian besar pekerjaan pengembangan dalam tiga tahun ke depan. Namun, ketika menyangkut penerapan ke tahap produksi, 79% masih mewajibkan persetujuan manusia. Pola tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi risiko suatu pekerjaan, semakin besar pula kebutuhan terhadap pengawasan manusia. Untuk pekerjaan yang relatif mudah dibatalkan, seperti dokumentasi, developer cenderung lebih terbuka memberikan otonomi kepada AI. Perubahan ini juga mulai memengaruhi keterampilan yang dianggap penting bagi developer. Arsitektur dan desain sistem, literasi AI, serta kemampuan mengorkestrasi agent diperkirakan menjadi bagian penting dari keterampilan pengembang di masa mendatang. Namun, tingkat kepercayaan diri terhadap perubahan tersebut berbeda antarjenjang karier. Sebanyak 49% developer pemula mengaku kurang yakin terhadap prospek karier mereka di masa depan, sementara angka tersebut berada di 16,7% pada responden yang menjabat sebagai CTO atau VP Engineering. CTO Agoda, Idan Zalzberg, mengatakan perkembangan AI tidak hanya meningkatkan kecepatan dalam mengerjakan tugas, tetapi juga membawa kebutuhan baru untuk memastikan teknologi tersebut dapat digunakan secara bertanggung jawab. Menurutnya, tantangan berikutnya bukan hanya bagaimana organisasi memanfaatkan kemampuan AI, tetapi juga bagaimana mengelola biaya, membangun perlindungan yang tepat, dan tetap menempatkan penilaian manusia pada keputusan penting. Studi AI Developer Report 2026 ini diprakarsai Agoda dan dilaksanakan bersama Macramé Consulting. Melalui studi tersebut, Agoda melihat perkembangan penggunaan AI di kalangan developer sekaligus perubahan kebutuhan keterampilan teknologi di Asia Tenggara dan India.
Tekno

Developer Indonesia Makin Percaya AI, Biaya Jadi Tantangan Baru

29/09/2026 Dimas Heriyanto
Dining in the Sky di Cibubur, Kitchen Takeover with RATIONAL Hadirkan Lima Chef
Hotel

Dining in the Sky di Cibubur, Kitchen Takeover with RATIONAL Hadirkan Lima Chef

29/09/2026 Dimas Heriyanto

NEWS

H3 Bogor dan Media Main Padel, Bangun Relasi Lewat Rally for Relations
News

H3 Bogor dan Media Main Padel, Bangun Relasi Lewat Rally for Relations

25/09/2026 Graciella Atalia

Sentul — Pertemuan antara praktisi Public Relations (PR) hotel dan media tidak selalu harus berlangsung dalam suasana formal. Himpunan Humas

Jakarta Kembali Jadi Bagian World Wellness Weekend 2026, Monas Ikut Bersinar Biru
News

Jakarta Kembali Jadi Bagian World Wellness Weekend 2026, Monas Ikut Bersinar Biru

25/09/2026 Dimas Heriyanto
Pita Kuning Buka Jalan Anak Pejuang Kanker untuk Tetap Mengejar Mimpi
News

Pita Kuning Buka Jalan Anak Pejuang Kanker untuk Tetap Mengejar Mimpi

12/09/2026 Dimas Heriyanto
Luka kecil bisa terjadi kapan saja, terutama saat aktivitas sehari-hari semakin padat. Persoalannya, tidak semua orang mengetahui langkah yang tepat untuk menanganinya sebelum luka ditutup. Hal inilah yang menjadi perhatian Betadine Indonesia bersama HISFARMA dalam memperingati Hari Pertolongan Pertama Sedunia di Bandung, 5 September 2026. Melalui Seminar HISFARMA PD IAI Jawa Barat 2026, PT iNova Pharmaceuticals Indonesia memperkenalkan Betadine Clear Liquid 5 ml sekaligus mengangkat pentingnya edukasi pertolongan pertama untuk luka ringan. Kolaborasi ini juga menyoroti peran apoteker sebagai salah satu sumber informasi kesehatan yang mudah dijangkau masyarakat. Head of Marketing PT iNova Pharmaceuticals Indonesia Yulias Rachmatika mengatakan, meningkatnya mobilitas masyarakat membuat kesiapan menghadapi luka ringan menjadi bagian yang tidak bisa diabaikan. “Momentum Hari Pertolongan Pertama Sedunia mengingatkan kita bahwa penanganan luka ringan sehari-hari perlu dimulai dengan langkah yang benar. Bersama HISFARMA, kami juga memperkuat peran apoteker sebagai sumber edukasi kesehatan yang mudah dijangkau masyarakat,” ujarnya. Edukasi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut menekankan pesan sederhana, yakni “Antiseptik Dulu, Baru Tutup Luka”. Prinsip ini kemudian dirangkum dalam konsep 4C, yaitu Chill, Clean & Disinfect, Cover, dan Comfort. Tahap pertama adalah tetap tenang dan memeriksa kondisi luka. Setelah itu, luka dibersihkan menggunakan air bersih mengalir dan diberikan antiseptik yang sesuai sebelum ditutup dengan plester atau kasa bersih. Kondisi luka juga perlu dipantau selama proses pemulihan dan mendapat penanganan tenaga kesehatan apabila menunjukkan tanda yang perlu diperhatikan. Apoteker dan dosen Universitas Santo Borromeus, apt. Yovita Mercya, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa edukasi semacam ini menjadi bagian dari peran apoteker dalam pelayanan kefarmasian. Hal tersebut juga sejalan dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek yang mencakup pemberian informasi dan konseling kepada pasien. “Luka ringan sebaiknya dibersihkan dengan air bersih terlebih dahulu, kemudian diberikan antiseptik untuk membantu mencegah infeksi sebelum akhirnya ditutup dengan plester atau perban,” kata Yovita. Dalam kesempatan yang sama, Betadine memperkenalkan Clear Liquid 5 ml dalam kemasan yang lebih ringkas. Produk ini mengandung octenidine dan allantoin serta ditujukan untuk penggunaan sesuai indikasi dan petunjuk pemakaian. Medical Affairs Specialist PT iNova Pharmaceuticals Indonesia dr. Fanny Fardhani menambahkan, tahap Clean & Disinfect perlu dilakukan sebelum luka ditutup. Menurutnya, luka ringan dapat dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran yang mudah diangkat, kemudian diberikan antiseptik yang sesuai. Rangkaian edukasi tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pertolongan pertama. Bukan hanya soal produk yang digunakan, tetapi juga memastikan langkah awal penanganan luka dilakukan dengan benar sebelum membutuhkan penanganan lebih lanjut.
News

Betadine dan HISFARMA Dorong Edukasi Perawatan Luka lewat Apoteker

10/09/2026 Graciella Atalia
Foto dan Storytelling Jadi Kunci Rilis PR Dilirik Media
News

Foto dan Storytelling Jadi Kunci Rilis PR Dilirik Media

08/09/2026 Graciella Atalia

GAYA HIDUP

Chuck 70X Bawa Gaya Klasik ke Arah Modern
Gaya Hidup

Chuck 70X Bawa Gaya Klasik ke Arah Modern

13/09/2026 Graciella Atalia

Jakarta – Gaya klasik kembali mendapat sentuhan baru. Converse menghadirkan Chuck 70X, interpretasi terbaru dari lini Chuck Taylor yang mempertahankan

ASICS GEL-DS TRAINER™ SP, Sneaker Feminin untuk Perempuan Aktif
Gaya Hidup

ASICS GEL-DS TRAINER™ SP, Sneaker Feminin untuk Perempuan Aktif

10/09/2026 Graciella Atalia
Acha Septriasa dan Darius Sinathrya Hadapi Rahasia Rumah Tangga di “Dalam Suka dan Dusta”
Gaya Hidup

Acha Septriasa dan Darius Sinathrya Hadapi Rahasia Rumah Tangga di “Dalam Suka dan Dusta”

10/09/2026 Graciella Atalia
A Bowl of Indonesia, Perjalanan Rasa dari Soto Tangkar hingga Konro Makassar
Gaya Hidup

A Bowl of Indonesia, Perjalanan Rasa dari Soto Tangkar hingga Konro Makassar

09/09/2026 Graciella Atalia
BINTANG BarSinar Hadirkan Kolaborasi Musisi Jelang Pestapora 2026
Gaya Hidup

BINTANG BarSinar Hadirkan Kolaborasi Musisi Jelang Pestapora 2026

08/09/2026 Dimas Heriyanto

TRAVEL

Jakarta Aquarium Safari Jadi Destinasi Favorit Wisatawan Asia Semester I 2026
Travel

Jakarta Aquarium Safari Jadi Destinasi Favorit Wisatawan Asia Semester I 2026

14/07/2026 Dimas Heriyanto

Jakarta – Wisata keluarga di Indonesia semakin menunjukkan daya saing di tingkat regional. Data terbaru Agoda mencatat Jakarta Aquarium Safari

Memory Senja by NATTA, Destinasi Baru Menikmati Sunset di Kulon Progo
Travel

Memory Senja by NATTA, Destinasi Baru Menikmati Sunset di Kulon Progo

07/07/2026 Graciella Atalia

EKONOMI BISNIS

Transnusa Tambah Rute Internasional, Bali–Phuket Terbang Nonstop
EKONOMI BISNIS

Transnusa Tambah Rute Internasional, Bali–Phuket Terbang Nonstop

11/09/2026 Dimas Heriyanto

Jakarta – Wisatawan yang ingin menggabungkan liburan di Indonesia dan Thailand kini punya pilihan perjalanan yang lebih praktis. Transnusa resmi

Mengulik Sisi Sains dan Kreasi Modern dalam Chocolate Essentials
EKONOMI BISNIS

Mengulik Sisi Sains dan Kreasi Modern dalam Chocolate Essentials

16/08/2026 Graciella Atalia

MUSIK

Jakarta — Ada kalanya hubungan tidak berakhir dengan pertengkaran atau kata putus. Seseorang hanya tiba-tiba menghilang, meninggalkan pertanyaan, atau membuat kita terus menunggu tanpa kejelasan. Untuk situasi seperti itu, penyanyi muda ERN punya satu jawaban sederhana: “YOWES”. “YOWES” menjadi single terbaru ERN yang mengangkat momen ketika seseorang akhirnya memilih berhenti menunggu dan berdamai dengan keadaan. Kata tersebut diambil dari bahasa Jawa yang berarti “ya sudah”. Namun, bagi ERN, “YOWES” bukan sekadar ungkapan untuk mengakhiri sesuatu. Lagu ini menggambarkan sikap menerima keadaan sekaligus keberanian untuk melanjutkan hidup setelah menghadapi hubungan yang membingungkan. “Harapanku, ketika teman-teman mendengarkan YOWES, terutama saat digosting atau ditinggalkan, mereka bisa merasa, ‘Ah, ya udahlah, masih banyak ikan di laut’,” ujar ERN. Alih-alih membawa suasana patah hati yang terlalu muram, ERN mengemas “YOWES” dengan nuansa ringan dan ritme yang mengajak bergoyang. Lagu ini bisa menjadi teman ketika sedang galau, dalam perjalanan, atau sekadar membutuhkan pengingat untuk kembali memilih diri sendiri. “Kalau kalian sedang bingung menghadapi seseorang, dengarkan saja YOWES. Kalian deserve better,” lanjutnya. “YOWES” juga menjadi pengalaman baru bagi ERN karena untuk pertama kalinya ia bekerja bersama tim penulis lagu yang terdiri dari Raa, Rai, Anka, dan Wizi. Keterlibatan dalam proses penulisan menjadi bagian penting bagi ERN untuk memasukkan identitas dan idealisme bermusiknya ke dalam lagu. Secara musikal, ERN banyak mengeksplorasi warna R&B dan pop, dengan pengaruh dari sejumlah musisi seperti Ariana Grande, SZA, Laufey, Tori Kelly, Kelly Clarkson, hingga Jacob Collier. Lewat “YOWES”, ia juga mencoba membawa sentuhan lokal melalui penggunaan bahasa Jawa yang terasa sederhana, tetapi dekat dengan keseharian. Bagi ERN, pilihan kata tersebut menjadi cara untuk menyampaikan pesan move on tanpa harus membuatnya terdengar terlalu berat. Nama ERN sendiri berasal dari nama aslinya dan memiliki makna personal karena merupakan singkatan dari nama kedua orang tuanya. Sebelumnya dikenal dengan nama Erna, ia kemudian menyederhanakan nama tersebut menjadi ERN sebagai identitas bermusik. Buat yang masih menunggu chat yang tak kunjung datang, terus bertanya-tanya soal status hubungan, atau baru saja ditinggal tanpa penjelasan, mungkin memang sudah waktunya bilang: YOWES.
Musik

Digantung atau Ditinggal? ERN Ajak Move On Lewat Single “YOWES”

29/09/2026 Graciella Atalia

Jakarta — Ada kalanya hubungan tidak berakhir dengan pertengkaran atau kata putus. Seseorang hanya tiba-tiba menghilang, meninggalkan pertanyaan, atau membuat

Jakarta — Rumah idealnya menjadi tempat pertama untuk merasa aman. Namun, bagi sebagian orang, rumah justru menyimpan cerita yang tidak mudah dibicarakan. Realitas inilah yang diangkat Pee Wee Gaskins (PWG) bersama Boniex, vokalis For Revenge, lewat single terbaru mereka, “(R)u(N)tuh”. Lagu tersebut bercerita tentang keluarga yang dari luar terlihat tetap utuh, tetapi menyimpan persoalan dan ketegangan di dalamnya. Di tengah hubungan orang tua yang tidak lagi bahagia, seorang anak tumbuh dalam situasi yang membuat rumah perlahan kehilangan maknanya sebagai tempat untuk pulang. Cerita dalam “(R)u(N)tuh” berawal dari kampanye yang digagas Dochi, personel PWG, untuk mengumpulkan pengalaman orang-orang yang pernah menghadapi situasi broken home. Sejumlah respons dan wawancara singkat melalui Threads kemudian menjadi bahan untuk membangun emosi dan cerita dalam lirik lagu. Alih-alih melihat persoalan keluarga hanya dari sudut pandang orang tua, lagu ini menempatkan pengalaman anak sebagai salah satu pusat ceritanya. Liriknya menggambarkan dua orang tua yang memilih bertahan demi anak dengan keyakinan bahwa mempertahankan keluarga adalah pilihan terbaik. Namun, keputusan tersebut tidak selalu membuat suasana rumah menjadi lebih bahagia. Anak justru dapat tumbuh di tengah hubungan yang penuh jarak dan ketegangan. Pada titik tersebut, rumah yang seharusnya menjadi tempat mencari kenyamanan bisa berubah menjadi ruang yang membuat seseorang mencari penerimaan di tempat lain. Kehadiran Boniex dalam lagu ini juga lahir dari proses kreatif yang cukup natural. Selain membantu menemukan notasi untuk lirik yang telah ditulis Dochi, karakter vokal Boniex dianggap sesuai dengan emosi yang ingin dibangun dalam “(R)u(N)tuh”. Bagi PWG, tema emosional bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Mereka sebelumnya pernah membawa sisi reflektif melalui lagu seperti “Selama Engkau Hidup” dan “Be Brave And Carry On”. Kali ini, energi pop-punk PWG digunakan untuk membawa cerita yang lebih dekat dengan persoalan keluarga. “Pop-punk enggak selamanya harus ceria. Lewat lagu ini, kami ingin membawa cerita yang berat dengan cara yang tetap jujur dan dekat dengan pendengar,” ungkap PWG. Meski mengangkat tema perceraian dan keluarga yang retak, “(R)u(N)tuh” tidak dibuat untuk menghakimi perceraian ataupun menentukan seperti apa bentuk keluarga yang ideal. Dochi justru ingin lagu ini menjadi ruang bagi mereka yang pernah atau sedang berada dalam situasi serupa. “Gue enggak punya ekspektasi lagu ini harus mengubah pandangan orang tentang perceraian atau keluarga. Gue cuma ingin cerita yang kami bawa bisa didengar dan mungkin relate dengan orang lain yang pernah atau sedang ada di posisi yang sama,” ujar Dochi. Pesan lain yang dibawa lagu ini ditujukan kepada anak-anak yang berada di tengah konflik keluarga. Mereka bukan penyebab dari persoalan orang tua, tidak harus memilih pihak, dan tetap memiliki hak untuk mencintai kedua orang tuanya. Lebih dari sekadar cerita tentang perpisahan, “(R)u(N)tuh” berbicara tentang kebutuhan untuk merasa aman dan bahagia. “Kadang kita terlalu sibuk mempertahankan bentuk sebuah keluarga sampai lupa bahwa yang sebenarnya dibutuhkan adalah rasa aman dan bahagia di dalamnya. Bertahan enggak selalu berarti semuanya akan menjadi lebih baik. Ada kalanya menerima dan melepaskan justru menjadi pilihan terbaik untuk semua orang,” lanjut Dochi. Lewat “(R)u(N)tuh”, PWG dan Boniex tidak menawarkan jawaban tunggal tentang bagaimana sebuah keluarga harus menghadapi masalah. Lagu ini lebih menjadi ruang untuk memahami luka yang sering kali tidak terlihat dari luar. Pada akhirnya, “(R)u(N)tuh” membawa pesan tentang menerima, berdamai, dan mencoba memulai kembali. Bagi pendengarnya, terutama mereka yang pernah mengalami situasi serupa, lagu ini diharapkan bisa menjadi pengingat bahwa mereka tidak sendirian.
Musik

Saat Rumah Tak Lagi Jadi Tempat Aman, Pee Wee Gaskins Rilis “(R)u(N)tuh”

29/09/2026 Dimas Heriyanto
JAKARTA – Penyanyi muda Racquell memperkenalkan single “Tetaplah Menjadi Baik” pada 18 September 2026. Dirilis melalui Kuya Music Entertainment, lagu bergenre pop ini membawa pesan tentang menjaga kebaikan, kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan. Lagu tersebut diproduseri Haris The Brothers dan dibuat dengan mempertimbangkan karakter vokal Racquell yang dikenal memiliki warna suara tebal. “Yang aku suka karena lagu ini tentang kebaikan dan tentang kehidupan juga,” kata Racquell. Bagi Racquell, single ini menjadi bagian baru dalam perjalanan bermusiknya yang sudah dimulai sejak usia sekitar lima tahun. Sebelum masuk ke studio, ia menjalani latihan vokal sekitar dua bulan, melanjutkan proses belajar yang selama ini dilakukan di Palangkaraya. Haris mengatakan Racquell sudah memiliki pengalaman bernyanyi dan mendapat pendampingan guru vokal di daerah asalnya. Saat berada di Jakarta untuk mengikuti acara KAMI Nusantara, kesempatan rekaman kemudian terbuka. Haris yang sebelumnya telah mengenal karakter suara Racquell kemudian mengembangkan lagu yang memang disesuaikan dengan warna vokalnya. “Karena memang karakter suaranya tebal. Dia berasal dari classic training, jadi kami coba convert dia ke pop,” ujar Haris. Perpindahan dari latihan vokal klasik menuju pop menjadi salah satu proses yang menarik dalam pengembangan musikal Racquell. Menurut Haris, saat ini dirinya masih melihat berbagai kemungkinan untuk menemukan karakter yang paling sesuai, mulai dari genre, pilihan lagu hingga aransemen. Namun, “Tetaplah Menjadi Baik” sejak awal memang dirancang berdasarkan karakter suara Racquell. “Ketika membuat lagu, saya sudah membayangkan karakter suaranya. Makanya lagunya memang terinspirasi dari suara Racquell,” katanya. Proses rekaman berlangsung lebih dari dua jam. Racquell mengaku tidak menemukan kendala berarti saat membawakan lagu tersebut. Selain bernyanyi, Racquell juga memiliki pengalaman di bidang tari. Ia mulai belajar menari sejak usia empat tahun dan mempelajari sejumlah tarian tradisional, termasuk tari Dayak, Aceh dan Bali. Kemampuan tersebut ikut dibawa ke atas panggung ketika “Tetaplah Menjadi Baik” dibawakan untuk pertama kalinya di City Mall Rising Star 2026 di Cibinong City Mall, 20 September 2026. Penampilan tersebut menjadi kesempatan bagi Racquell untuk memperkenalkan lagu yang baru dirilis dua hari sebelumnya sekaligus menunjukkan perpaduan kemampuan vokal dan gerak yang selama ini ia pelajari. Perjalanan musik Racquell juga mendapat dukungan keluarga. Ayahnya, Aan, mengatakan pendidikan tetap menjadi prioritas meski putrinya mulai mendapat kesempatan tampil dan merekam lagu. “Sekolah tetap nomor satu. Tetapi kami merasa kalau ada kesempatan, kami coba. Siapa tahu anak kami ini benar-benar bisa berkembang,” ujarnya. Keluarga Racquell sendiri cukup dekat dengan aktivitas seni. Selain memiliki pengalaman di choir, keluarganya mengelola sanggar yang menjadi tempat sekitar 60 anak belajar menyanyi dan menari. Untuk langkah berikutnya, Haris mendorong Racquell konsisten memperkenalkan karyanya melalui media sosial dan berbagai platform lainnya. “Rajin berkonten dan konsisten,” pesannya. Bagi Racquell, “Tetaplah Menjadi Baik” menjadi langkah awal untuk memperkenalkan warna vokalnya sekaligus membangun identitas musik yang masih terus berkembang. Lagu berdurasi sekitar empat menit tersebut kini tersedia di berbagai platform musik digital.
Musik

Racquell Rilis “Tetaplah Menjadi Baik”, Bawa Warna Vokal Klasik ke Musik Pop

21/09/2026 Graciella Atalia
Ratusan penyanyi muda mengikuti City Mall Rising Stars 2026 di Cibinong City Mall, Bogor. Setelah melewati rangkaian audisi sejak 16 September, kompetisi ini mengerucut menjadi 20 semifinalis dan 12 finalis. Berbeda dari ajang pencarian bakat yang hanya berfokus pada pemenang, City Mall Rising Stars 2026 memberikan kesempatan recording kepada 20 semifinalis. Sementara para finalis melanjutkan persaingan untuk memperebutkan gelar juara sekaligus kesempatan exclusive single recording. Babak final berlangsung pada 20 September 2026. Emmanuella Amira Zavada dan Shannen Dominique Assa berhasil menjadi Champion. Tomi Efendi dan Demanuella Pandiangan menempati posisi Runner Up, sedangkan Emmanuella Amira Zavada juga meraih Top Vote berdasarkan pilihan publik. Master vokal Haris yang terlibat dalam pelatihan peserta mengatakan ajang seperti ini penting untuk menemukan penyanyi yang belum mendapatkan ruang untuk tampil. “Masih banyak sekali penyanyi yang belum kita tahu. Ternyata masih banyak sekali yang belum ditemukan dan belum menunjukkan diri,” ujar Haris. Menurutnya, kemampuan vokal bukan satu-satunya modal untuk menjadi penyanyi profesional. Peserta juga perlu menjalani proses latihan, memahami teknik vokal, menguasai panggung, serta membangun karakter suara. “Yang paling penting menurut saya adalah dia original. Originalitas dan warna suara itu sangat-sangat penting,” katanya. Pandangan tersebut sejalan dengan musisi dan gitaris Tohpati. Ia menilai karakter suara menjadi salah satu aspek penting ketika seorang penyanyi mulai memasuki industri musik. “Kalau untuk masuk ke dunia industri, yang dilihat adalah karakter suara dan apakah dia bisa membuat lagu itu menjadi lebih baik,” ujar Tohpati. Menurutnya, kemenangan dalam kompetisi bukan otomatis menjadi ukuran perjalanan seorang penyanyi. Setelah kompetisi, mereka tetap harus membangun kemampuan dan menemukan cara untuk membuat pendengar tertarik. Musisi sekaligus penggiat industri musik Pongky Barata juga berharap peserta tidak berhenti setelah menerima piala. “Harapannya, mereka bukan hanya berhenti setelah menerima piala, tetapi benar-benar bisa bertahan di industri musik,” katanya. Perkembangan media sosial turut mengubah jalur penyanyi baru untuk dikenal publik. Tohpati menyebut penyanyi kini dapat memperkenalkan karya maupun cover melalui platform digital tanpa harus selalu mengandalkan festival. Meski begitu, kompetisi tetap memiliki fungsi sebagai ruang belajar, terutama untuk melatih mental dan pengalaman tampil. Hal tersebut juga menjadi perhatian Helena Idol. Menurutnya, semakin banyak kesempatan tampil, semakin banyak pengalaman yang bisa diperoleh penyanyi muda sebelum menghadapi industri musik yang lebih luas. Selain pengalaman panggung, kesempatan recording menjadi salah satu bagian penting dari City Mall Rising Stars 2026. Sebanyak 20 semifinalis mendapatkan kesempatan recording bersama, sedangkan pemenang memperoleh kesempatan membuat single. Penyelenggara berharap kesempatan tersebut dapat menjadi langkah awal bagi talenta terpilih untuk memiliki karya dan melanjutkan perjalanan di industri musik. Rangkaian City Mall Rising Stars 2026 berlangsung melalui booth audition pada 16 September, live audition 17 September, semifinal 19 September, dan final 20 September 2026. Dua belas finalis yang tampil di babak final adalah Demanuella Pandiangan, Karel Bonaparte, Nayra Alifias, Asyfa Namira, Ibrahim Gany, Miracle S Tobamora, Anindita Zahra Wahyudi, Caroline Simajuntak, Tomi Efendi, Emmanuella Amira Zavada, Shannen Dominique Assa, dan Sabina. Ajang ini pada akhirnya tidak hanya menjadi panggung untuk menentukan juara, tetapi juga memberi peserta pengalaman tampil, berlatih, mengenali karakter vokal, hingga masuk ke proses recording.
Musik

City Mall Rising Stars 2026: Saat Panggung Lokal Jadi Jalan Menuju Industri Musik

21/09/2026 Graciella Atalia

TEKNO

Jakarta — Kecerdasan buatan (AI) semakin masuk ke keseharian para pengembang perangkat lunak di Indonesia. Namun, meningkatnya penggunaan AI ternyata berjalan beriringan dengan persoalan baru, terutama terkait biaya dan kebutuhan pengawasan manusia. Temuan tersebut muncul dalam AI Developer Report 2026 yang dirilis platform perjalanan digital Agoda. Studi ini melibatkan komunitas pengembang di Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Singapura, Vietnam, dan India untuk melihat bagaimana AI mengubah pola kerja developer serta penerapan teknologi tersebut di lingkungan organisasi. Di Indonesia, sebanyak 82,7% developer melaporkan adanya peningkatan kepercayaan diri atau penggunaan AI. Meski demikian, manfaat berupa penghematan waktu belum dirasakan secara merata. Hanya 46,9% developer Indonesia yang mengaku menghemat tujuh jam atau lebih setiap minggu melalui AI. Angka tersebut menjadi yang terendah dibandingkan tujuh pasar yang disurvei. Secara keseluruhan, penggunaan AI menunjukkan peningkatan produktivitas yang cukup signifikan. Lebih dari separuh responden global dalam studi tersebut mengaku menghemat setidaknya tujuh jam per minggu, naik dari 18% pada 2025 menjadi 55% pada 2026. AI Mulai Masuk ke Berbagai Tahap Pengembangan Penggunaan AI kini tidak lagi terbatas pada membantu pekerjaan individual. Teknologi tersebut mulai dimanfaatkan dalam berbagai aktivitas pengembangan perangkat lunak, mulai dari code review, debugging, arsitektur, pembelajaran hingga dokumentasi. Kualitas kode yang dihasilkan AI juga dinilai semakin baik. Sebanyak 62% responden mengatakan kode yang dihasilkan AI sering atau hampir selalu dapat digunakan tanpa perubahan besar. Meski demikian, developer belum sepenuhnya menyerahkan pekerjaan kepada AI. Sebanyak 86% responden masih selalu atau hampir selalu meninjau maupun memvalidasi hasil yang diberikan AI. Perubahan berikutnya terlihat dari semakin banyaknya penggunaan AI agent, yakni sistem AI yang dapat menjalankan rangkaian tugas dengan tingkat otonomi lebih tinggi. Lebih dari separuh responden, atau sekitar 53%, mengatakan AI agent telah digunakan dalam alur kerja produksi tertentu atau bahkan secara luas di organisasi mereka. Namun, kesiapan menuju sistem yang sepenuhnya otonom masih terbatas. Hanya 38% responden yang menilai codebase mereka sebagian besar atau sepenuhnya siap untuk penggunaan AI agent secara penuh. Biaya Mulai Jadi Perhatian Persoalan biaya muncul sebagai salah satu tantangan utama. Sekitar 27,7% developer Indonesia menyebut biaya sebagai hambatan utama penggunaan AI agent. Secara keseluruhan, biaya juga menjadi hambatan utama dalam adopsi AI yang lebih luas, disusul kompleksitas integrasi dan kurangnya tata kelola. Biaya yang dimaksud bukan hanya pembayaran untuk penggunaan model AI. Pengeluaran juga mencakup kebutuhan untuk merancang, mengintegrasikan, mengawasi, serta memvalidasi sistem AI sebelum digunakan dalam lingkungan produksi. Empat dari lima responden bahkan mengatakan mereka saat ini bekerja dengan sejumlah pembatasan penggunaan AI, seperti kuota token, batas pemakaian, maupun batas anggaran. Manusia Masih Memegang Kendali Meski AI agent diperkirakan akan mengambil porsi pekerjaan yang lebih besar, pengembang masih menempatkan manusia sebagai bagian penting dalam proses pengambilan keputusan. Sebanyak 70% responden memperkirakan AI agent akan menangani sebagian besar pekerjaan pengembangan dalam tiga tahun ke depan. Namun, ketika menyangkut penerapan ke tahap produksi, 79% masih mewajibkan persetujuan manusia. Pola tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi risiko suatu pekerjaan, semakin besar pula kebutuhan terhadap pengawasan manusia. Untuk pekerjaan yang relatif mudah dibatalkan, seperti dokumentasi, developer cenderung lebih terbuka memberikan otonomi kepada AI. Perubahan ini juga mulai memengaruhi keterampilan yang dianggap penting bagi developer. Arsitektur dan desain sistem, literasi AI, serta kemampuan mengorkestrasi agent diperkirakan menjadi bagian penting dari keterampilan pengembang di masa mendatang. Namun, tingkat kepercayaan diri terhadap perubahan tersebut berbeda antarjenjang karier. Sebanyak 49% developer pemula mengaku kurang yakin terhadap prospek karier mereka di masa depan, sementara angka tersebut berada di 16,7% pada responden yang menjabat sebagai CTO atau VP Engineering. CTO Agoda, Idan Zalzberg, mengatakan perkembangan AI tidak hanya meningkatkan kecepatan dalam mengerjakan tugas, tetapi juga membawa kebutuhan baru untuk memastikan teknologi tersebut dapat digunakan secara bertanggung jawab. Menurutnya, tantangan berikutnya bukan hanya bagaimana organisasi memanfaatkan kemampuan AI, tetapi juga bagaimana mengelola biaya, membangun perlindungan yang tepat, dan tetap menempatkan penilaian manusia pada keputusan penting. Studi AI Developer Report 2026 ini diprakarsai Agoda dan dilaksanakan bersama Macramé Consulting. Melalui studi tersebut, Agoda melihat perkembangan penggunaan AI di kalangan developer sekaligus perubahan kebutuhan keterampilan teknologi di Asia Tenggara dan India.
Tekno

Developer Indonesia Makin Percaya AI, Biaya Jadi Tantangan Baru

29/09/2026 Dimas Heriyanto

Jakarta — Kecerdasan buatan (AI) semakin masuk ke keseharian para pengembang perangkat lunak di Indonesia. Namun, meningkatnya penggunaan AI ternyata

Lenovo Idea Tab Plus Hadir, Tablet 12,1 Inci untuk Kerja dan Belajar
Tekno

Lenovo Idea Tab Plus, Tablet 12,1 Inci untuk Kerja dan Belajar

12/09/2026 Dimas Heriyanto
ASUS TUF Gaming 16 Tawarkan Performa Gaming hingga 262 FPS, Harga Mulai Rp27 Jutaan
Tekno

ASUS TUF Gaming 16 Tawarkan Performa Gaming hingga 262 FPS, Harga Mulai Rp27 Jutaan

12/09/2026 Dimas Heriyanto
TCL C7L Andalkan Precise Dimming untuk Gambar Lebih Detail
Tekno

TCL C7L Andalkan Precise Dimming untuk Gambar Lebih Detail

11/09/2026 Dimas Heriyanto

HEALTH

World Heart Day 2026: Kenali Hipertensi dan AFib Sebelum Picu Stroke
Health

World Heart Day 2026: Kenali Hipertensi dan AFib Sebelum Picu Stroke

15/09/2026 Dimas Heriyanto

Jakarta — Penyakit jantung dan stroke kerap berkembang tanpa gejala yang jelas. Kondisi ini membuat pemantauan kesehatan menjadi penting, terutama

Anak Makin Aktif, Kenyamanan Popok Jadi Perhatian Orang Tua
Health

Anak Makin Aktif, Kenyamanan Popok Jadi Perhatian Orang Tua

08/09/2026 Graciella Atalia

PROPERTI

Kitchen Sink MODENA Gabungkan 12 Fungsi dalam Satu Produk
Properti

Kitchen Sink MODENA Gabungkan 12 Fungsi dalam Satu Produk

11/09/2026 Graciella Atalia

Jakarta – Aktivitas di dapur kini tidak hanya berkutat pada urusan mencuci piring. Menyiapkan bahan makanan, membilas peralatan hingga mengatur

Cat Anti Jamur Hitam Jadi Inovasi Baru Pacific Paint di IndoBuildTech
Properti

Cat Anti-Black Mold Jadi Inovasi Baru Pacific Paint di IndoBuildTech

09/07/2026 Dimas Heriyanto

HOTEL

Dining in the Sky di Cibubur, Kitchen Takeover with RATIONAL Hadirkan Lima Chef
Hotel

Dining in the Sky di Cibubur, Kitchen Takeover with RATIONAL Hadirkan Lima Chef

29/09/2026 Dimas Heriyanto

Cibubur — Pengalaman menikmati makan malam di ketinggian tak selalu harus ke pusat Jakarta. Awal Oktober ini, Avenzel Hotel &

Cari Short Stay di Jakarta? Senior Living Care Punya Rate Mulai Rp488.888
Hotel

Cari Short Stay di Jakarta? Senior Living Care Punya Rate Mulai Rp488.888

25/09/2026 Graciella Atalia

OTOMOTIF

MG ZS Hybrid+ Meluncur di Bandung, Harga Mulai Rp299,9 Juta
Otomotif

MG ZS Hybrid+ Meluncur di Bandung, Harga Mulai Rp299 Jutaan

11/09/2026 Dimas Heriyanto

Bandung, 8 September 2026 – Pilihan SUV hybrid di Bandung bertambah. Morris Garages (MG) Motor Indonesia resmi memperkenalkan MG ZS

Mercedes-Benz Rayakan 100 Tahun Brand, Perkuat Posisi sebagai Pemimpin Teknologi Otomotif Global
Otomotif

Mercedes-Benz Rayakan 100 Tahun Brand, Perkuat Posisi sebagai Pemimpin Teknologi Otomotif Global

29/06/2026 Dimas Heriyanto

PROFIL

Adjie Maulana: Menciptakan Lagu Sebagai Pengingat Dalam Hidup
Profil

Adjie Maulana: Menciptakan Lagu Sebagai Pengingat Dalam Hidup

10/08/2023 Widi Nugroho

Jakarta, Trendsetter.id – Berkenalan dengan pria yang satu ini sangat menarik. Menyambangi rumahnya yang berada di kawasan Cinere, sosok ini

Tentang Kami

  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak Kami

part of

Copyright © 2026 trendsetter.id. All rights reserved.
Theme: ColorMag by ThemeGrill. Powered by WordPress.