Gaya Hidup

 “Songko” Hadirkan Teror Desa Tomohon yang Mencekam

Jakarta – Film horor Indonesia kembali menghadirkan cerita lokal yang mencekam. Kali ini, legenda dari tanah Minahasa diangkat ke layar lebar lewat film “Songko”, diproduksi oleh Dunia Mencekam Studio bersama Santara.

Film ini membawa penonton menyelami kisah kelam tentang ketakutan, kecurigaan, dan kehancuran sebuah desa akibat kemunculan makhluk misterius yang dipercaya mengincar darah suci perempuan muda.

Berlatar tahun 1986 di sebuah desa di Tomohon, Minahasa, cerita bermula dari kematian misterius sejumlah perempuan muda. Warga mulai percaya bahwa makhluk bernama Songko telah datang untuk mencari darah suci demi memperoleh kekekalan hidup. Ketakutan pun perlahan berubah menjadi kepanikan yang memecah hubungan antarwarga.

Salah satu hal paling menarik dari produksi film ini adalah pembangunan set desa secara khusus di kaki Gunung Lokon, Tomohon. Tim produksi membangun sebuah desa lengkap dari area kosong yang kemudian menjadi lokasi utama syuting.

Produser kreatif Santara, Avandrio Yusuf, mengatakan bahwa proses riset dilakukan secara mendalam untuk menjaga keaslian cerita. Ia bahkan turun langsung melakukan wawancara dengan kepala adat, warga Tomohon, serta masyarakat Manado untuk menggali akar legenda yang menjadi inspirasi film.

Hasil riset tersebut memengaruhi banyak aspek produksi, mulai dari visual sosok Songko, desain kostum, gaya bahasa karakter, hingga atmosfer desa yang ditampilkan dalam film.

Sutradara Gerald Mamahit menegaskan bahwa Songko tidak hanya berfokus pada kemunculan makhluk menyeramkan, tetapi juga pada sisi gelap manusia ketika ketakutan mulai menguasai. Menurutnya, teror terbesar dalam cerita justru datang dari bagaimana warga desa mulai kehilangan rasa percaya satu sama lain.

Pendekatan ini membuat Songko tampil bukan hanya sebagai film horor biasa, tetapi juga menghadirkan ketegangan psikologis yang terasa lebih dekat dengan realitas manusia.

Aktris Annette Edoarda mengaku pengalaman menonton kembali film ini di gala premiere menghadirkan sensasi berbeda dibanding saat proses syuting. Menurutnya, atmosfer tegang yang sudah terasa sejak lokasi syuting menjadi jauh lebih intens ketika ditonton bersama penonton lain di layar lebar.

Eksekutif Produser Santara, Whisnu Baker, menyebut Songko merupakan bagian dari visi mereka untuk membawa cerita-cerita lokal Indonesia ke panggung yang lebih luas. Menurutnya, melibatkan talenta dari daerah asal cerita menjadi cara untuk menjaga identitas budaya tetap terasa kuat di dalam film.

Film horor Songko dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 23 April 2026. Bagi penonton yang menyukai horor dengan sentuhan budaya lokal dan atmosfer psikologis yang kuat, Songko berpotensi menjadi salah satu film yang paling dinanti di bioskop bulan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *