News

Foto dan Storytelling Jadi Kunci Rilis PR Dilirik Media

Jakarta – Siaran berita dari public relations (PR) industri hotel, restoran, dan kafe (Horeka) masih menghadapi persoalan klasik, terlalu promosi, sarat seremoni, dan kurang memiliki sudut pandang yang menarik bagi pembaca.

Himpunan Anak Media (HAM) mencatat, lebih dari 80 persen siaran berita yang dikirim PR Horeka melalui email dinilai kurang menarik dan tidak fokus pada topik utama. Sementara dari sisi visual, sekitar 85 persen foto pendukung belum memenuhi kebutuhan media, mulai dari ukuran, komposisi hingga sudut pengambilan gambar.

Temuan tersebut menjadi salah satu alasan HAM menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pelatihan Jurnalistik dan Fotografi di Habitare Rasuna, Jakarta, Senin (31/8/2026). Pelatihan ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan stakeholder, khususnya PR dan marketing communication, dalam menghasilkan materi komunikasi yang lebih bernilai berita.

Ketua HAM Fatkhurrohim mengatakan, persoalan yang paling sering ditemui bukan semata-mata soal teknik menulis, tetapi cara melihat sebuah peristiwa.

“Kasus yang paling sering ditemukan adalah rilis yang hard selling, seremonial, dan tidak fokus dengan tema yang ditulis. Foto pun kadang hanya jadi pelengkap rilis, belum memperhatikan kesesuaian dengan rilis,” ujarnya.

Persoalan sudut pandang ini juga disoroti Fransisca Christy Rosana, Redaktur Tempo Media Group yang menjadi narasumber pelatihan. Menurutnya, banyak PR masih menyusun rilis berdasarkan point of view (POV) perusahaan, bukan dari perspektif media dan pembaca.

Akibatnya, rilis yang sebenarnya memiliki informasi menarik justru mudah tersisih di meja editor.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah storytelling. PR tidak harus menghilangkan unsur promosi, tetapi perlu mengubah cara mengemasnya menjadi cerita yang memiliki konteks, relevansi, dan alasan mengapa informasi tersebut penting diketahui pembaca.

“Penggunaan kata seperti ‘terbaik’, ‘premium’, atau ‘spektakuler’ tidak otomatis menghadirkan nilai berita,” kata Fransisca.

Satu informasi dari industri Horeka, misalnya, dapat memiliki pendekatan berbeda ketika ditujukan ke media lifestyle, ekonomi, maupun travel. Karena itu, memahami desk editorial dan karakter pembaca menjadi bagian penting dari strategi distribusi siaran berita.

Persoalan serupa terjadi pada materi fotografi. Foto yang menyertai rilis sering kali diposisikan hanya sebagai pelengkap, padahal visual dapat menjadi elemen yang menentukan apakah sebuah berita menarik untuk ditayangkan.

Fotografer Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata RI, Marcel Lahea, menilai foto memiliki peran penting dalam memperkuat narasi sekaligus menyampaikan informasi kepada publik.

“Foto yang dipublikasikan harus melalui proses kurasi sehingga gambar yang digunakan benar-benar memiliki cerita dan informatif,” ujarnya.

Karena itu, kemampuan fotografi tidak berhenti pada menghasilkan gambar yang artistik. Fotografer perlu memahami teknik, komposisi, sudut pengambilan, momen, serta konteks agar foto mampu berdiri sebagai bagian dari cerita.

Di sisi lain, PR juga perlu memiliki kemampuan memilih foto sebelum materi dikirim ke media. Foto yang bagus secara teknis belum tentu relevan dengan isi berita.

Bagi industri Horeka yang sangat mengandalkan pengalaman dan visual, kemampuan menggabungkan cerita yang kuat dengan foto yang informatif menjadi semakin penting. Rilis yang tidak sekadar menjual dan visual yang tidak sekadar indah berpeluang lebih besar mendapatkan perhatian editor maupun pembaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *