ASHTA Hadirkan Heritage Reimagined, Wastra Indonesia Tampil Modern
Jakarta, Trendsetter – Warisan budaya tidak selalu harus ditempatkan sebagai sesuatu yang sakral dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Di tangan kreator, motif, siluet, hingga teknik tradisional justru bisa diterjemahkan menjadi karya yang lebih dekat dengan selera generasi masa kini.
Gagasan itulah yang diangkat ASHTA District 8 melalui HERITAGE REIMAGINED, program budaya yang berlangsung pada 5–30 Agustus 2026. Mengusung tema Where Legacy Inspires Tomorrow, program ini mengeksplorasi pertemuan antara warisan budaya Indonesia dan kreativitas kontemporer melalui fashion, seni, desain, musik, hingga craftsmanship.
Salah satu sorotan utamanya adalah Algorithm: Universal Language, instalasi dan pameran karya desainer Wilsen Willim di Melting Pot, Ground Floor. Pameran ini menjadikan tenun Nusantara sebagai titik berangkat untuk melihat bagaimana warisan budaya dapat diterjemahkan ke dalam bahasa visual yang lebih universal.

Alih-alih menempatkan tenun sebatas artefak tradisional, Wilsen mengeksplorasi pola dan struktur wastra melalui pendekatan fashion, musik, eksplorasi visual, inovasi teknik, serta prinsip keberlanjutan.
Pendekatan tersebut menarik karena persoalan pelestarian budaya hari ini bukan semata bagaimana mempertahankan bentuk aslinya, tetapi juga bagaimana membuatnya tetap memiliki tempat dalam kehidupan generasi baru.
“Di ASHTA, kami percaya bahwa legacy hanya akan tetap hidup ketika terus diberi ruang untuk berevolusi. Melalui Heritage Reimagined, kami ingin menghadirkan sebuah pengalaman yang menghubungkan warisan wastra Indonesia dengan kreativitas masa kini,” ujar Leonardo Slatter, Senior Manager Center Experience ASHTA District 8.
Dari Kebaya Kartini hingga Beskap
Eksplorasi tersebut berlanjut melalui kolaborasi Wilsen Willim dan Dian Sastrowardoyo. Keduanya menghadirkan koleksi busana yang mengambil inspirasi dari sejumlah siluet tradisional Indonesia, mulai dari Kebaya Kartini, Kebaya Kutubaru, Kebaya Janggan, Beskap, Surjan, hingga Sikepan Hussar khas Keraton Surakarta.
Yang berubah bukan identitas budayanya, melainkan cara busana tersebut diterjemahkan agar lebih relevan dengan kebutuhan pemakainya hari ini.
Koleksi tersebut menggunakan material seperti katun, jacquard, suiting fabric, hingga batik tulis Cirebon. Siluetnya dibuat lebih modern dengan dominasi warna netral sehingga lebih mudah dipadukan dengan berbagai jenis wastra Nusantara maupun busana sehari-hari.
Pendekatan ini sekaligus menjawab tantangan klasik fashion berbasis budaya: bagaimana membuat busana tradisional tidak berhenti dipakai pada momen tertentu saja.

“Saya ingin kebaya dapat menjadi bagian dari keseharian perempuan Indonesia, dengan gaya yang lebih kasual, material yang nyaman dikenakan, namun tetap mempertahankan nilai serta identitas budayanya,” kata Dian Sastrowardoyo.
Menurut Wilsen, pemilihan warna netral juga dilakukan agar rancangan dapat digunakan dalam berbagai kesempatan dan lebih mudah dipadukan dengan wastra Nusantara yang memiliki kekayaan warna serta motif.
Kolaborasi tersebut juga tidak sekadar menempatkan Dian sebagai wajah koleksi. Ia terlibat dalam pengembangan ide dan proses kurasi desain bersama tim Wilsen Willim.
“Kami memilih palet warna yang netral agar setiap rancangan dapat dikenakan kembali dalam berbagai kesempatan sekaligus mudah dipadukan dengan wastra Nusantara yang kaya akan warna dan motif,” ujar Wilsen.
Ketika Tradisi Masuk ke Ruang Urban
HERITAGE REIMAGINED pada akhirnya menawarkan cara pandang lain terhadap pelestarian budaya. Tradisi tidak harus selalu dipertahankan dalam bentuk yang sama untuk tetap memiliki nilai.
Ketika unsur tradisional diterjemahkan melalui desain, fashion, seni, dan pengalaman kreatif, warisan budaya justru mendapatkan kesempatan untuk memasuki ruang-ruang baru, termasuk gaya hidup masyarakat urban.
Bagi ASHTA District 8, pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang yang mempertemukan seni, budaya, kreativitas, dan komunitas.

