Tekno

Developer Indonesia Makin Percaya AI, Biaya Jadi Tantangan Baru

Jakarta — Kecerdasan buatan (AI) semakin masuk ke keseharian para pengembang perangkat lunak di Indonesia. Namun, meningkatnya penggunaan AI ternyata berjalan beriringan dengan persoalan baru, terutama terkait biaya dan kebutuhan pengawasan manusia.

Temuan tersebut muncul dalam AI Developer Report 2026 yang dirilis platform perjalanan digital Agoda. Studi ini melibatkan komunitas pengembang di Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Singapura, Vietnam, dan India untuk melihat bagaimana AI mengubah pola kerja developer serta penerapan teknologi tersebut di lingkungan organisasi.

Di Indonesia, sebanyak 82,7% developer melaporkan adanya peningkatan kepercayaan diri atau penggunaan AI. Meski demikian, manfaat berupa penghematan waktu belum dirasakan secara merata.

Hanya 46,9% developer Indonesia yang mengaku menghemat tujuh jam atau lebih setiap minggu melalui AI. Angka tersebut menjadi yang terendah dibandingkan tujuh pasar yang disurvei.

Secara keseluruhan, penggunaan AI menunjukkan peningkatan produktivitas yang cukup signifikan. Lebih dari separuh responden global dalam studi tersebut mengaku menghemat setidaknya tujuh jam per minggu, naik dari 18% pada 2025 menjadi 55% pada 2026.

AI Mulai Masuk ke Berbagai Tahap Pengembangan

Penggunaan AI kini tidak lagi terbatas pada membantu pekerjaan individual. Teknologi tersebut mulai dimanfaatkan dalam berbagai aktivitas pengembangan perangkat lunak, mulai dari code review, debugging, arsitektur, pembelajaran hingga dokumentasi.

Kualitas kode yang dihasilkan AI juga dinilai semakin baik. Sebanyak 62% responden mengatakan kode yang dihasilkan AI sering atau hampir selalu dapat digunakan tanpa perubahan besar.

Baca Juga:  Xiaomi Indonesia Luncurkan Perangkat Wearable Terbaru

Meski demikian, developer belum sepenuhnya menyerahkan pekerjaan kepada AI. Sebanyak 86% responden masih selalu atau hampir selalu meninjau maupun memvalidasi hasil yang diberikan AI.

Perubahan berikutnya terlihat dari semakin banyaknya penggunaan AI agent, yakni sistem AI yang dapat menjalankan rangkaian tugas dengan tingkat otonomi lebih tinggi.

Lebih dari separuh responden, atau sekitar 53%, mengatakan AI agent telah digunakan dalam alur kerja produksi tertentu atau bahkan secara luas di organisasi mereka.

Namun, kesiapan menuju sistem yang sepenuhnya otonom masih terbatas. Hanya 38% responden yang menilai codebase mereka sebagian besar atau sepenuhnya siap untuk penggunaan AI agent secara penuh.

Biaya Mulai Jadi Perhatian

Persoalan biaya muncul sebagai salah satu tantangan utama. Sekitar 27,7% developer Indonesia menyebut biaya sebagai hambatan utama penggunaan AI agent. Secara keseluruhan, biaya juga menjadi hambatan utama dalam adopsi AI yang lebih luas, disusul kompleksitas integrasi dan kurangnya tata kelola.

Biaya yang dimaksud bukan hanya pembayaran untuk penggunaan model AI. Pengeluaran juga mencakup kebutuhan untuk merancang, mengintegrasikan, mengawasi, serta memvalidasi sistem AI sebelum digunakan dalam lingkungan produksi.

Empat dari lima responden bahkan mengatakan mereka saat ini bekerja dengan sejumlah pembatasan penggunaan AI, seperti kuota token, batas pemakaian, maupun batas anggaran.

Manusia Masih Memegang Kendali

Meski AI agent diperkirakan akan mengambil porsi pekerjaan yang lebih besar, pengembang masih menempatkan manusia sebagai bagian penting dalam proses pengambilan keputusan.

Baca Juga:  ZTE dan Telkomsel Bangun Jaringan 5G Masa Depan yang Lebih Cerdas dan Hijau

Sebanyak 70% responden memperkirakan AI agent akan menangani sebagian besar pekerjaan pengembangan dalam tiga tahun ke depan. Namun, ketika menyangkut penerapan ke tahap produksi, 79% masih mewajibkan persetujuan manusia.

Pola tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi risiko suatu pekerjaan, semakin besar pula kebutuhan terhadap pengawasan manusia. Untuk pekerjaan yang relatif mudah dibatalkan, seperti dokumentasi, developer cenderung lebih terbuka memberikan otonomi kepada AI.

Perubahan ini juga mulai memengaruhi keterampilan yang dianggap penting bagi developer. Arsitektur dan desain sistem, literasi AI, serta kemampuan mengorkestrasi agent diperkirakan menjadi bagian penting dari keterampilan pengembang di masa mendatang.

Namun, tingkat kepercayaan diri terhadap perubahan tersebut berbeda antarjenjang karier. Sebanyak 49% developer pemula mengaku kurang yakin terhadap prospek karier mereka di masa depan, sementara angka tersebut berada di 16,7% pada responden yang menjabat sebagai CTO atau VP Engineering.

CTO Agoda, Idan Zalzberg, mengatakan perkembangan AI tidak hanya meningkatkan kecepatan dalam mengerjakan tugas, tetapi juga membawa kebutuhan baru untuk memastikan teknologi tersebut dapat digunakan secara bertanggung jawab.

Menurutnya, tantangan berikutnya bukan hanya bagaimana organisasi memanfaatkan kemampuan AI, tetapi juga bagaimana mengelola biaya, membangun perlindungan yang tepat, dan tetap menempatkan penilaian manusia pada keputusan penting.

Studi AI Developer Report 2026 ini diprakarsai Agoda dan dilaksanakan bersama Macramé Consulting. Melalui studi tersebut, Agoda melihat perkembangan penggunaan AI di kalangan developer sekaligus perubahan kebutuhan keterampilan teknologi di Asia Tenggara dan India.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *