Pita Kuning Buka Jalan Anak Pejuang Kanker untuk Tetap Mengejar Mimpi
Jakarta – Perjuangan melawan kanker pada anak tidak berhenti pada proses pengobatan. Dalam masa yang panjang, anak juga harus berhadapan dengan perubahan rutinitas, pendidikan, hubungan sosial, hingga kesempatan untuk menikmati masa kanak-kanak.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia, terutama karena proses pengobatan dapat membuat anak harus meninggalkan sekolah dalam waktu cukup lama. Dalam sejumlah kasus, keterbatasan fisik dan efek pengobatan turut memengaruhi kemampuan anak untuk mengikuti kegiatan belajar maupun berinteraksi dengan teman sebaya.
Pengalaman itu salah satunya dialami Kemal, 17 tahun, anak dampingan Pita Kuning yang didiagnosis medulloblastoma atau kanker otak. Pengobatan dan efek kemoterapi membuat ruang geraknya terbatas hingga ia harus melewati proses pendidikan selama sekitar 10 tahun.

Di sisi lain, kondisi tersebut tidak serta-merta menghapus keinginan anak untuk memiliki masa depan seperti teman-teman seusianya. Karena itu, dukungan bagi anak dengan kanker tidak hanya dibutuhkan dalam aspek medis, tetapi juga untuk membantu mereka tetap belajar, bersosialisasi, dan berkembang sesuai tahap usianya.
Melalui layanan pendampingan, Pita Kuning memberikan dukungan psikososial melalui pekerja sosial tersertifikasi Kemensos, bantuan nutrisi bulanan, kegiatan edukatif dan rekreatif, serta pendampingan psikologis bagi anak dan keluarga.
Perspektif tersebut menjadi bagian dari kampanye “New Paths to Dreams” yang digelar bertepatan dengan Childhood Cancer Awareness Month setiap September. Kampanye ini mengajak masyarakat melihat anak dengan kanker secara lebih utuh, bukan hanya dari diagnosis dan proses pengobatannya, tetapi juga dari mimpi serta kehidupan yang ingin mereka jalani.
Pesan itu dibawa dalam Media Gathering yang digelar di Rumah Pita Kuning, Jakarta. Acara yang diikuti 14 media, anak dampingan, serta Pembina dan Pengawas Pita Kuning tersebut menjadi ruang untuk berbagi perjalanan Pita Kuning sekaligus membahas peran media dalam memperluas pemahaman mengenai kehidupan anak dengan kanker.
“Bagi kami, setiap anak tetaplah anak yang berhak memiliki mimpi. Diagnosis kanker seharusnya tidak membuat mereka kehilangan kesempatan untuk belajar, bermain, dan bercita-cita,” ujar Tyas Amalia, Ketua Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia.

Rangkaian kampanye akan berlanjut melalui talkshow online bertajuk “From Surviving to Thriving: Perjalanan Anak Tangguh Melawan Kanker” pada 19 September 2026. Diskusi ini menghadirkan dr. Tito Gunantara, Sp.A(K) Onk, Raissa Hadiman, M.Psi., Psikolog, serta caregiver dan anak dampingan Pita Kuning untuk membahas pengalaman anak dan keluarga selama menghadapi kanker.
Bagi Pita Kuning, dukungan terhadap anak pejuang kanker membutuhkan keterlibatan lebih banyak pihak. Indro Warkop, Pengawas Pita Kuning, menilai keluarga, tenaga kesehatan, organisasi, komunitas, media, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menciptakan lingkungan yang membantu anak tetap menjalani kehidupannya.
“Pita Kuning tidak dapat berjalan sendiri. Perubahan selalu lahir dari kolaborasi yang bisa dilakukan bersama masyarakat, mitra atau komunitas, dan tentunya rekan-rekan media,” kata Indro.
Pita Kuning ingin memperluas percakapan tentang kanker anak agar tidak berhenti pada persoalan pengobatan. Sebab, di balik perjalanan panjang tersebut, ada anak-anak yang tetap ingin sekolah, bermain, bertemu teman, dan memiliki kesempatan untuk menentukan masa depan yang mereka inginkan.

