Batik Derawan-Maratua Resmi Diluncurkan, Perkuat Identitas Budaya Kalimantan Timur
Jakarta — Kepulauan Derawan selama ini lebih dikenal sebagai destinasi wisata bahari berkelas dunia. Namun, kekayaan kawasan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, dinilai tidak berhenti pada bentang alamnya. Budaya masyarakat pesisir yang tumbuh di wilayah tersebut kini didorong menjadi identitas baru yang diharapkan mampu memperkuat daya saing pariwisata sekaligus ekonomi kreatif.
Upaya tersebut ditandai dengan peluncuran program “Dalling dan Batik untuk Derawan, Maratua, dan Budaya” yang digagas Ikatan Pencinta Batik Nusantara (IPBN) di Jakarta, Kamis (30/7). Program ini melahirkan delapan motif Batik Derawan-Maratua yang terinspirasi dari kekayaan hayati laut dan tradisi masyarakat Kabupaten Berau, sekaligus merevitalisasi Tari Dalling, tarian tradisional Suku Bajau yang mulai jarang dikenal generasi muda.
Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan, Bambang Wibawarta, mengatakan pengembangan batik dan seni pertunjukan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah menjadikan budaya sebagai fondasi pembangunan yang mampu menciptakan nilai ekonomi sekaligus memperkuat identitas bangsa.

“Ketika ombak diterjemahkan menjadi motif, penyu menjadi simbol kehidupan, dan alam diwujudkan dalam tarian, sesungguhnya masyarakat sedang memindahkan ingatan alam menjadi ingatan budaya,” kata Bambang.
Menurutnya, kekayaan terbesar Derawan dan Maratua tidak hanya terletak pada keindahan lautnya, tetapi juga pada warisan budaya masyarakat pesisir yang selama ini menjadi bagian dari sejarah panjang peradaban bahari Indonesia. Karena itu, pengembangan budaya lokal perlu berjalan beriringan dengan pengembangan sektor pariwisata.
Ia menambahkan, Kementerian Kebudayaan terus menjalankan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan melalui upaya pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
Bambang juga menilai pemanfaatan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (AI), dapat membuka peluang lebih besar bagi promosi budaya Indonesia di tingkat global.
“Setiap motif batik baru bukan sekadar memperkaya wastra Nusantara, tetapi memperkuat identitas Indonesia di mata dunia. Kebudayaan adalah titipan yang kita pinjam dari anak cucu kita sehingga harus dirawat sebaik-baiknya,” ujarnya.

Seluruh delapan motif Batik Derawan-Maratua yang diperkenalkan dalam program ini telah memperoleh perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Inspirasinya berasal dari ikon-ikon khas Kepulauan Derawan, mulai dari penyu hijau, ubur-ubur tak menyengat di Danau Kakaban, ombak, biota laut tropis, hingga kehidupan masyarakat pesisir Berau.
Project Leader Pengembangan Batik dan Tari Dalling Derawan-Maratua, Nazam, mengatakan peluncuran tersebut menjadi langkah awal membangun identitas budaya baru yang diharapkan mampu dikenal lebih luas, baik di dalam maupun luar negeri.
Pada tahap awal, IPBN memperkenalkan tiga motif utama, yakni Bokko’ Lumangi yang merepresentasikan penyu Derawan sebagai simbol keseimbangan dan ketangguhan, Buung Embal Naban yang terinspirasi dari ubur-ubur tak menyengat Danau Kakaban sebagai lambang harmoni ekosistem, serta Goyak yang menggambarkan dinamika ombak dan kekayaan laut tropis Derawan. Motif-motif lainnya akan diperkenalkan secara bertahap dan ditampilkan pada ajang Pemilihan Putra Putri Batik Nusantara 2026.
Selain mengembangkan batik, IPBN juga melakukan revitalisasi Tari Dalling melalui penyempurnaan koreografi, aransemen musik, tata busana, hingga strategi promosi digital. Upaya tersebut dilakukan tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisional yang menjadi identitas tarian masyarakat Suku Bajau.
Untuk menjangkau generasi muda, IPBN juga menyiapkan kampanye Dalling TikTok Trends, sebagai bagian dari strategi memperkenalkan budaya lokal melalui platform digital yang lebih dekat dengan kebiasaan masyarakat saat ini.
Dewan Pembina IPBN, Sapta Nirwandar, menilai Derawan dan Maratua memiliki peluang besar berkembang sebagai destinasi wisata budaya berkelas dunia karena memadukan kekayaan alam dengan warisan budaya masyarakat pesisir.
Menurut mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tersebut, daya saing destinasi wisata saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh panorama alam, tetapi juga oleh identitas budaya yang mampu melahirkan festival, produk kreatif, dan pengalaman autentik bagi wisatawan.
“Derawan memiliki modal luar biasa. Alamnya kelas dunia, diperkaya budaya masyarakat Bajau, Tari Dalling, dan kini motif batik khas yang menjadi identitas baru. Kombinasi ini menjadi keunggulan yang tidak dimiliki banyak destinasi wisata lain,” ujarnya.
Program “Dalling dan Batik untuk Derawan, Maratua, dan Budaya” merupakan bagian dari Program Layanan Produksi Bidang Kebudayaan yang didukung Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan dan LPDP. Melalui kolaborasi pemerintah, komunitas budaya, akademisi, pelaku seni, dan masyarakat lokal, program ini diharapkan tidak hanya memperkuat identitas budaya Kepulauan Derawan dan Maratua, tetapi juga membuka peluang baru bagi pengembangan pariwisata berkelanjutan dan ekonomi kreatif masyarakat pesisir di Kabupaten Berau.

