Gaya Hidup

Terang Bulan Jadi Babak Baru Perjalanan Musik Endah N Rhesa

Jakarta – Ada masa ketika kehilangan tak lagi terasa seperti ledakan emosi. Kesibukan kembali berjalan, hari-hari terlihat normal, tetapi ketika malam datang, perasaan yang sempat disimpan kembali muncul.

Fase sunyi itulah yang coba direkam Endah N Rhesa lewat single terbaru mereka, “Terang Bulan”. Lagu ini menjadi kelanjutan dari “Merelakanmu” sekaligus bagian dari mini album mendatang, “Menyambut Matahari”, yang dijadwalkan rilis dalam beberapa bulan ke depan.

Jika “Merelakanmu” berbicara tentang menghadapi kehilangan seseorang yang disayangi, “Terang Bulan” bergerak ke fase setelahnya: ketika seseorang mulai menjalani hidup tanpa sosok yang telah pergi, belajar menerima kenyataan, sekaligus mencari cara untuk memulihkan diri.

Nuansa tersebut terasa dalam suasana lagu yang menempatkan malam sebagai ruang untuk berbicara dengan diri sendiri. Ketika aktivitas mereda dan berbagai distraksi menghilang, muncul pertanyaan, keraguan, hingga rasa takut menghadapi hari berikutnya.

Bagi Endah N Rhesa, tema tersebut berangkat dari pengalaman personal yang semakin dekat dengan kehidupan mereka. Memasuki fase usia yang tidak lagi muda, keduanya menyadari bahwa kehilangan menjadi sesuatu yang semakin nyata. Kabar duka yang datang dari orang-orang terdekat membuat mereka kembali berhadapan dengan kenyataan bahwa hidup terus bergerak dan tidak semua hal bisa dikendalikan.

Pengalaman itu kemudian diterjemahkan menjadi dialog batin dalam lagu. Salah satu liriknya mempertanyakan: “Haruskah aku bermain peran, seakan kuat tak terkalahkan.” Pertanyaan tersebut menjadi salah satu inti “Terang Bulan”: apakah seseorang memang harus selalu terlihat kuat ketika sebenarnya sedang rapuh?

“Proses refleksi dan introspeksi sering aku lakukan saat malam hari. Ada rasa nyaman yang muncul di tengah keheningan, ketika distraksi mulai berkurang dan aku bisa menumpahkan emosi tanpa merasa canggung karena harus kembali beraktivitas,” ujar Endah.

Menurutnya, justru dalam suasana tersebut ia bisa lebih jujur terhadap perasaan sendiri dan perlahan menemukan kelapangan hati.

Menariknya, “Terang Bulan” tidak hadir untuk memberikan jawaban tentang bagaimana seseorang seharusnya menghadapi kehilangan. Lagu ini lebih seperti teman duduk dalam keheningan—menemani proses yang sering kali berlangsung tanpa banyak diketahui orang lain.

Kesedihan, ketakutan, dan keraguan ditempatkan sebagai bagian wajar dari perjalanan manusia. Sebab, dalam situasi tertentu, yang dibutuhkan bukan selalu seseorang yang mampu menghilangkan kesedihan, melainkan ruang yang memungkinkan seseorang mengakuinya.

“Terang Bulan” dan “Merelakanmu” nantinya menjadi bagian dari mini album “Menyambut Matahari”. Berisi lima lagu berbahasa Indonesia, mini album tersebut akan membawa tema besar seputar kehilangan, penerimaan, dan harapan.

Dibandingkan karya-karya Endah N Rhesa sebelumnya, materi baru ini juga terasa lebih sendu. Namun, bagi Rhesa yang bertindak sebagai bassis sekaligus produser, kesenduan tersebut justru menjadi ruang kreatif untuk mengolah fase kehidupan yang sedang mereka jalani.

“Mini album ini memang terasa lebih sendu dibandingkan karya-karya kami sebelumnya. Mungkin karena mengikuti fase hidup yang sedang kami jalani. Tapi justru lewat lagu-lagu ini, kami merasa punya ruang untuk mencurahkan semuanya. Rasanya melegakan,” kata Rhesa.

Lagu tersebut menjadi pengantar menuju “Menyambut Matahari”, sekaligus ruang kecil bagi siapa pun yang sedang melewati malam dengan banyak pertanyaan tentang kehilangan, penerimaan, atau sekadar kebutuhan untuk berhenti sejenak dan berdamai dengan perasaan sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *