Pelaku Industri Pariwisata Soroti Okupansi Hotel dan Peluang Wellness Tourism
Jakarta, Trendsetter.id – Industri pariwisata Indonesia sedang memasuki fase krusial. Pertumbuhan hotel yang masif, perubahan pola wisatawan, hingga persaingan dengan vila dan homestay membuat sektor ini menghadapi tekanan serius. Namun di saat yang sama, peluang baru justru muncul dari tren wellness tourism dan digitalisasi layanan.
Isu ini menjadi sorotan dalam forum HAM Meet CEO, yang mempertemukan pelaku industri dari sektor hotel, wellness, teknologi, hingga investor untuk membahas masa depan hospitality Indonesia pada 2025–2026.
Tren Wellness Jadi Magnet Baru Pariwisata
Founder dan CEO Odilia Infinity Corporation, Yohana Gewang, melihat perubahan besar dalam perilaku wisatawan. Layanan spa yang dulu identik dengan relaksasi kini berkembang menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang lebih holistik.
Menurutnya, konsep wellness tourism kini tidak lagi sekadar layanan tambahan di hotel, tetapi telah menjadi alasan utama orang bepergian.
“Wisata berbasis kesehatan fisik dan mental semakin diminati. Wellness bahkan mulai menjadi destinasi tersendiri yang punya potensi besar di Indonesia,” ujar Yohana.
Hotel Bertambah, Pasar Tidak Tumbuh Secepat Itu
CEO Natta Hospitality Management, Thomas Matantu, menyoroti ketimpangan antara pertumbuhan jumlah hotel dengan peningkatan jumlah wisatawan. Ekspansi hotel dalam beberapa tahun terakhir tidak diimbangi dengan pertumbuhan pasar yang sepadan. Situasi semakin berat setelah efisiensi anggaran pemerintah membuat kontribusi kegiatan pemerintah terhadap okupansi hotel turun drastis.
“Dulu kontribusinya bisa sampai 60 persen, sekarang mungkin hanya sekitar 10 persen, akibatnya, tingkat hunian hotel, terutama pada hari kerja, mengalami penurunan signifikan di berbagai kota.” jelas Thomas.
Persaingan juga semakin ketat dengan maraknya vila dan homestay yang menawarkan fleksibilitas serta harga lebih kompetitif. Dalam beberapa tahun terakhir, tren akomodasi alternatif ini dinilai ikut menggerus tingkat okupansi hotel hingga 30–40 persen, terutama pada musim liburan seperti Lebaran serta Natal dan Tahun Baru.
Investor Masih Tertarik, Tapi Regulasi Dipertanyakan
Founder dan CEO MORA Group, Andhy Irawan, mengatakan potensi pasar domestik yang besar masih menjadi daya tarik utama bagi investasi di sektor hospitality. Namun ia mengkritik pemerintah yang dinilai belum menghadirkan kebijakan yang benar-benar konkret untuk mendukung industri.
“Pemerintah seharusnya menjadi leader orkestra, bukan ikut bermain. Industri membutuhkan aksi nyata, bukan sekadar narasi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti fenomena hotel dengan okupansi hanya sekitar 20 persen hingga penjualan aset hotel akibat tekanan bisnis yang meningkat. Selain itu, lemahnya koordinasi antar asosiasi industri serta perubahan regulasi yang dinamis membuat pelaku usaha harus bergerak sendiri menghadapi tantangan pasar.
Digitalisasi Jadi Kunci Layanan Hotel Masa Depan
Di tengah dinamika tersebut, teknologi dinilai menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing layanan hospitality.
CEO Power Pro, Harli Yanto, menekankan bahwa digitalisasi kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Sistem teknologi memungkinkan kualitas pelayanan hotel diukur secara real-time sehingga standar layanan bisa lebih terkontrol.
“Pelayanan tidak cukup hanya dijanjikan, harus bisa diukur melalui sistem. industri kini mulai beralih ke sistem berbasis cloud seperti Amazon Web Services dan Google Cloud, yang dinilai lebih efisien, aman, dan fleksibel dibandingkan server lokal.” kata Harli.
Hospitality Butuh Arah Baru
Melihat perubahan pasar yang cepat, para pelaku industri menilai pengembangan pariwisata Indonesia membutuhkan pendekatan yang lebih terintegrasi. Tren wellness, inovasi layanan berbasis teknologi, serta regulasi yang adaptif menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan sektor ini.
Tanpa intervensi kebijakan yang konkret dan koordinasi lintas sektor yang kuat, pertumbuhan industri hospitality berisiko tidak berjalan seimbang. Sebab pada akhirnya, industri ini tidak hanya membutuhkan pasar yang besar, tetapi juga arah pembangunan yang jelas untuk memastikan daya saing pariwisata Indonesia di masa depan.

